Boneka Muslim Salma

Boneka muslim Salma belakangan ini memang banyak di cari oleh ibu-ibu muslimah untuk putri mereka tercinta. Boneka muslim Salma ini tidak jauh beda dengan Nabila. Boneka ini keduanya memang di buat khusus untuk putri-putri muslimah. Tampilannya yang mirip barbie memang sangat kentara, namun yang tidak bisa dipungkiri kalau ke dua boneka ini memakai BUSANA MUSLIM yang lengkap.

Untuk kedua boneka ini, yaitu Salma dan Nabila sudah bisa di dapatkan dengan mudah di toko boneka seluruh Indonesia. Boneka yang memakai BAJU MUSLIM ini memang belakangan ini menjadi primadona di toko boneka. Setiap hari ada saja ibu-ibu yang membelikan boneka untuk putrinya, mungkin mereka menyadari kalau boneka ini bisa mengajarkan putri mereka tentang busana muslimah. Jilbab yang di pakai ke dua boneka ini juga lucu, kecil dan imut. Dan tentu saja mereka (putri) bisa dengan mudah mengganti jilbab yang di pakai ke dua boneka ini dengan warna yang beda-beda.

Nisa's Quilt, Membayar Keahlian Pembuatnya


Ketika suami dipindahtugaskan ke kota atau negara lain, perempuan seringkali harus mengalah dan meninggalkan pekerjaannya sendiri demi mengikuti sang suami. Banyak perempuan yang lantas memilih menjadi ibu rumah tangga, namun tak sedikit pula yang mencoba membangun karir baru.

Menekuni hobi baru adalah pilihan Nisa Hariadi. Ketika mendampingi sang suami yang bertugas di Dallas, Texas, AS, pada tahun 1994, lulusan Politeknik ITB ini berkenalan dengan quilt.

Quilting adalah seni menggabung-gabungkan kain dengan ukuran dan potongan tertentu untuk membentuk motif-motif yang unik. Potongan-potongan kain tersebut lalu ditindas dengan jahitan model jelujur yang ukurannya harus sama jika dilihat dari sisi manapun. Karena prinsip mengerjakannya dengan tangan, boleh dibilang karya yang satu tidak akan sama persis dengan karya yang lain.

Nisa pun mempelajari teknik pengerjaan quilt. Dari teknik patchwork, dimana kain dipotong-potong dengan bentuk geometri, misalnya segiempat atau segitiga, dengan ukuran yang sama. Potongan-potongan berbentuk geometri ini lalu dijahit satu sama lain hingga menghasilkan suatu pola.

Teknik selanjutnya adalah appliqué. Pada teknik ini potongan-potongan kain dapat dibentuk menjadi gambar seperti binatang, bunga-bungaan, rumah, anak Jepang, dan lain sebagainya. Teknik terakhir adalah paper piecing, dimana kain perca yang sudah dialasi kertas di belakangnya, dilapis lagi dengan kain, lalu kain tersebut dijahit dengan lapisan teratas. Kertas itu lalu dibuang sedikit-sedikit ketika semua bagian sudah disatukan.

Merasa tertarik dengan seni yang berasal dari kebudayaan bangsa Amish ini, Nisa berusaha mencari tahu bagaimana cara membuatnya. Bersama beberapa rekannya di sana, ia mulai mengumpulkan perlengkapan membuat quilt, termasuk buku-buku teknik membuat quilt.

Dari Texas, sang suami dipindahkan ke Rumbai, Pekanbaru. Ternyata, salah satu kegiatan yang diadakan kalangan ekspatriat di perusahaan sang suami adalah kursus quilting. Tanpa pikir panjang, Nisa pun mengikuti kursus tersebut. Ditugaskannya kembali sang suami ke Amerika pada tahun 1999-2002 memberi kesempatan pada Nisa untuk terus meningkatkan keahliannya. Minatnya tak pernah surut, sehingga wanita yang kini berusia 40 tahun ini bertekad untuk lebih serius menekuni kerajinan ini. Berbagai buku dan peralatan khusus untuk quilt diburunya.

Kembali ke Pekanbaru, Nisa sudah berani mengajarkan quilt dalam acara kumpul ibu-ibu.

Mulai berbisnis
Tahun 2004, dari Pekanbaru wanita asal Bandung ini pindah ke Jakarta. Namun meskipun sudah menguasai seni quilting, dan sudah menjadi pengajar untuk kalangan dekatnya, Nisa tidak langsung terpikir untuk berbisnis. Hasil karyanya hanya dipajang saja di rumahnya. Padahal quilt dalam bentuk wall hanging saja sudah mencapai 50 pattern.

Peluang berbisnis datang tanpa disengaja. Saat itu Nisa sedang bertandang ke rumah sahabatnya, yang juga telah memiliki wall hanging karyanya. Lalu datang seorang tamu ke rumah sahabat Nisa, dan tercengang melihat hiasan dinding yang indah tersebut. Tamu yang ternyata staf sebuah kedutaan asing tersebut lalu menawarkan Nisa untuk mengikuti pameran Women International Club.

“Padahal, untuk bisa mengikuti pameran semacam itu biasanya harus mengikuti proses seleksi. Saya beruntung karena tidak perlu mengikuti berbagai prosedur biasanya,” kata Nisa.

Tahun 2005, untuk pertama kalinya Nisa berpameran di acara berskala besar seperti WIC, yang saat itu digelar di Gedung Nyi Ageng Serang, Kuningan, Jakarta Selatan. “Dari pameran itu, saya banyak berkenalan dengan orang-orang dari kedutaan asing. Dari mereka saya jadi tahu bagaimana cara mengikuti pameran-pameran yang lain,” ujar Nisa. Yang jelas, ia juga mulai mendapatkan pembeli dan pelanggan, dari dalam dan luar negeri.

Hingga kini, Nisa sudah berpartisipasi di berbagai pameran seperti Inacraft, La Femme, Indocraft, ANZA (Australian and New Zealand Embassy Bazaar), AWA (American Women Association Bazaar), IWA (Indian Women Association Bazaar), dan klab-klab kedutaan lainnya.

Banyak ekspatriat yang membeli quilt karya Nisa, karena harganya yang jauh lebih murah daripada di Amerika. Di sana, harga sepotong selimut bisa mencapai 10.000 dollar, sedangkan harga selimut Nisa “hanya” Rp 3,5 juta (ukuran besar) atau Rp 2 juta – Rp 2,5 juta (ukuran single, dan tergantung motif). Berbagai bentuk quilt lain yang dibuat Nisa antara lain wall hanging (Rp 1,5 juta), sajadah dan tasnya (Rp 850.000), juga taplak, sarung bantal sofa, korden, hingga cover sofa.

Harga yang mahal ini, menurut Nisa, tentunya karena quilt adalah suatu seni yang dikerjakan tangan. Membayar sekian juta untuk selimut artinya membayar keahlian perajinnya. Harga tersebut tentu sudah termasuk penggunaan bahan-bahan berkualitas, seperti benang khusus quilt yang masih diimpor. “Kalau benang jahit biasa kurang kuat. Jahitannya gampang brodol,” seru ibu dua anak ini.

Karena tingkat kesulitan pembuatannya yang tinggi itulah, Nisa juga tidak memproduksi quilt secara massal. Dalam sebulan, ia hanya menghasilkan empat potong selimut. Ia dibantu oleh sejumlah karyawan untuk memenuhi pesanan quilt berbagai bentuk.

Nisa juga tidak menaikkan harga barang ketika mengikuti pameran. “Itulah yang kadang membuat bisnis kolaps, karena harga saat pameran dibuat lebih mahal,” papar Nisa, yang kini omzet-nya mencapai Rp 50 juta sebulan.

Di antara pelanggan tetap Nisa itu, adalah Elfianty, sang sahabat yang mempertemukannya dengan staf kedutaan asing dulu. Sebelum mengoleksi karya Nisa, Elfi mengaku sudah sering melihat quilt di pasaran. “Tapi kalau beli di luar enggak ada yang bagus. Punya Nisa kan bagus-bagus, warna dan motifnya banyak variasi,” puji Elfi, yang sudah mempunyai empat sajadah, dan empat wall hanging untuk seluruh anggota keluarganya.

Ia sendiri mengaku awalnya juga ingin belajar membuat quilt pada sahabatnya itu (untuk mengikuti kursus quilt, silakan baca "Quilting, Seni Menggabungkan Kain Perca" di rubrik Hobby). “Tapi saya orangnya enggak sabaran. Akhirnya kalau peserta yang lain sibuk menjahit, saya malah pindah baca koran di depan rumah,” ujar Elfi sambil tertawa geli.

Elfi berusaha merawat koleksi quilt-nya sesuai instruksi dari Nisa. Quilt sebaiknya hanya dicuci setahun sekali. Mencucinya pun hanya boleh dengan shampo bayi. “Kalau pakai sabun deterjen, terlalu keras. Jahitannya bisa cepat rusak,” ujar Nisa. Setelah dikeringkan, selimut atau barang-barang quilt yang lain disimpan dengan tas dari bahan belacu.

Nisa kini sudah mampu menciptakan appliqué sendiri. Misalnya saja, ia melihat gambar ayam yang bagus pada perangkat cangkir dan teko. Gambar itu lalu difoto, di-scan, dan dijadikannya motif appliqué. Keahlian seperti ini menjadi modalnya sebagai quilt specialist, dan karena itu Nisa membedakan posisinya sebagai pengajar dan sebagai pelaku bisnis quilt. Pattern-pattern yang lebih rumit dan jumlahnya ribuan, serta motif temuannya sendiri, tidak dimasukkan dalam “kurikulum” kursusnya. Nisa hanya akan mengajarkan bila ada peserta (biasanya yang sudah ada di tingkat Advance) yang ingin mencoba membuatnya. Kelak, jika rajin berlatih peserta ini tentunya juga mampu menciptakan motif appliqué sendiri.

Karena itulah, meskipun para perajin quilt belajar dari sumber yang sama, masing-masing pasti memiliki kelebihan tersendiri. Hal ini tentu kembali pada prinsip quilting seperti telah disebut di awal tulisan: karena quilting dikerjakan dengan tangan, tak ada karya perajin yang mirip satu sama lain. Pembeli tinggal memilih mana yang sesuai dengan seleranya.

Tiga Jalan Mengumpulkan Modal Usaha

Salah satu faktor penting yang diperlukan untuk membuka usaha adalah modal. Modal yang diperlukan untuk usaha biasanya terbagi menjadi tiga: Modal Investasi Awal, Modal Kerja, dan Modal Operasional. Namun setelah mengetahui hal ini, beberapa orang malah makin pusing. "Menghitung modal sih memang gampang. Masalahnya sekarang, gimana caranya supaya modalnya bisa terkumpul?" begitu mungkin yang Anda pikirkan.

Ini memang bahasan menarik, karena banyak orang kesulitan mengumpulkan modal usaha. Sebagai contoh, kalau seseorang ingin buka usaha laundry dengan memiliki mesin cuci sendiri, dan ia membutuhkan modal dana sebesar Rp 20 juta, sementara dananya sendiri baru Rp 3 juta, darimana ia bisa mengumpulkan modal?

Ada tiga jalan untuk mengumpulkan modal usaha:

1. Modal sendiri
Pertama jelas, kalau Anda ingin membuka usaha, Anda bisa memakai modal sendiri. Caranya bisa dengan mengambil dari simpanan yang Anda miliki sekarang, entah dari tabungan atau deposito, atau dengan menjual aset yang Anda punya. Sebagai contoh, banyak orang yang menjual sepeda motornya untuk dijadikan modal usaha, atau menjual perhiasan yang dimiliki.

Menjual barang untuk menambah modal usaha adalah hal yang biasa. Yang paling penting, jangan merasa terlalu sayang untuk menjual beberapa aset Anda untuk menambah modal usaha. Contohnya, kalau Anda tidak mempunyai uang untuk modal usaha dan harus menjual perhiasan Anda, ya jual saja. Kelak bila usaha Anda sudah berhasil, Anda toh bisa membeli lagi perhiasan yang lebih bagus. Betul, enggak?

2. Meminjam
Meminjam uang untuk modal usaha juga sering dilakukan orang. Dengan meminjam, seringkali usaha yang memang Anda impikan bisa lebih cepat terwujud. Hal ini lebih baik daripada menunggu hingga modal terkumpul. Hanya saja, karena modal itu Anda dapatkan dengan meminjam, Anda betul-betul harus memperhatikan cash flow Anda. Ini karena Anda pasti harus mengembalikan uang yang Anda pinjam. Entah dengan mengembalikannya secara bulanan, 6 bulanan, atau mungkin tahunan.

Dalam hal meminjam, bahwa banyak orang yang seringkali terlalu fokus kepada bagaimana mereka bisa mendapatkan pinjaman, tetapi tidak memikirkan apa yang bisa mereka lakukan untuk mengembalikan pinjaman tersebut. Jadi, ketika meminjam, cobalah untuk memikirkan bagaimana caranya Anda bisa mengembalikan pinjaman tersebut.

Tipsnya, ketika Anda memikirkan caranya, jangan terlalu optimis bahwa pendapatan dari usaha Anda pasti bisa langsung besar di bulan-bulan pertama. Kalau perlu, buatlah perkiraan sepesimis mungkin. Dari perkiraan yang pesimis tersebut, Anda pasti bisa melakukan penilaian apakah pengembalian yang akan Anda lakukan nantinya bisa lancar atau tidak.

3. Kerja sama
Daripada Anda memakai dana milik Anda sendiri semuanya, atau daripada Anda meminjam, mengapa tidak mencoba menjalin kerja sama dengan orang lain? Dengan menjalin kerja sama, maka risiko usaha Anda bisa lebih kecil karena harus dibagi bersama teman-teman Anda. Cuma, keuntungan yang Anda dapatkan tentu juga harus dibagi. Artinya, risiko dibagi, keuntungan juga harus dibagi.

Sekarang masalahnya, adakah orang yang mau kerjasama dengan Anda? Itu tergantung apakah Anda bisa dengan baik menawarkan keuntungan yang masuk akal pada usaha yang Anda tawarkan. Tetapi, tawaran keuntungan saja belum cukup lho. Anda juga harus bisa memberikan pendekatan yang baik, tidak sombong pada orang-orang yang ingin Anda ajak kerjasama.

Selain itu, bila memungkinkan, penjelasan yang Anda berikan juga harus masuk akal, seadanya, dan tidak melulu memaparkan keuntungan pada orang yang ingin Anda ajak kerjasama.

Nah, sekarang, Anda sudah tahu bagaimana mengumpulkan modal untuk membuka usaha. Mudah-mudahan dari tiga pilihan tersebut di atas, Anda bisa menentukan pilihan mana yang terbaik.

Susahnya Menembus Industri Fashion

Fashion Tent, tempat utama pergelaran Jakarta Fashion Week 09/10, juga menjadi ajang para desainer muda untuk memamerkan rancangannya. Stella Rissa, Jeffry Tan, dan Mel Ahyar menggelar rancangan mereka dalam ”3 Young and Vibrant Designers”, Selasa (17/11). Sedangkan dalam acara Cleo Fashion Awards 2009 di panggung Koridor M, Rabu (18/11), penonton menanti-nanti penampilan label Raiki, Kikichan, KLÉ, Nina Nikicio, Danjyo&Hiyoji, Majic., Geulis, dan Petite Cupcakes. Semua adalah merek yang dimiliki orang muda berusia 20-30 tahun. Penghargaan kemudian diberikan juri kepada KLÉ yang didirikan Kleting Titis Wigati pada Januari 2009.

Yang membedakan para perancang di atas dari banyak yang lain adalah mereka memiliki tekad membuat produk siap pakai daripada membuat pakaian berdasarkan pesanan satu per satu pelanggan. Para perancang seperti itulah yang membuat industri mode berkembang karena karya mereka dapat dinikmati masyarakat luas.

Kenyataannya, tidak mudah memasuki industri mode karena keterkaitan dengan industri pendukung di hilir dan hulu yang panjang. Ketika masih memproduksi dalam hitungan satu atau dua lusin per bulan, belum ada kendala bahan baku atau modal. Begitu berbicara koleksi satu tahun yang biasanya terdiri atas dua koleksi utama dengan beberapa koleksi antara, bahan baku menjadi masalah. Pun modal.

”Bahan baku memang jadi masalah. Saya menyiasati dengan baik-baikin tukang jual kain supaya kainnya disimpankan dulu. Nanti, saya tebus kalau sudah ada uang,” kata Kleting. Untuk tiap koleksi, KLÉ membuat 26 model dan tiap model diproduksi 25 buah dengan sistem subkontrak.

Jeffrey Tan, yang belajar mode di Esmod Jakarta dan sejak awal 2009 memiliki butik di Warung Buncit, Jakarta Selatan, menawarkan desain yang dia sebut sebagai ”eksperimental”. Wujudnya detail, seperti bentuk saku pada rok atau kerah di blazer untuk memberi karakter. Hasilnya, di panggung Jeffrey mendapat tepuk tangan penonton.

”Saya pernah empat tahun kerja di pabrik garmen di Bali, jadi tahu cara outsource produksi rancangan saya kalau ada pesanan banyak,” kata Jeffrey yang produk baju laki-lakinya terdapat di Fashion First, Senayan City, Jakarta.

Dana Maulana (29), yang bersama Syarifah Liza (28) mengawaki Danjyo&Hiyoji, sudah memulai usaha ini sejak 2001. Meskipun demikian, untuk membesarkan dengan cepat masih kesulitan modal. ”Kami sedang mencari investor,” kata Dana, yang tiap bulan memproduksi 500 potong pakaian perempuan dan laki-laki dewasa muda dengan 11 karyawan.

Desainer Muda, Bergerak Lewat Komunitas

Tepukan riuh dan teriakan pemberi semangat membuat udara di Fashion Tent, tempat utama pergelaran Jakarta Fashion Week 09/10 di Pacific Place yang disesaki sekitar 800 pengunjung, bertambah panas.

Selasa (17/11) sore itu, Stella Rissa, Jeffry Tan, dan Mel Ahyar menggelar rancangan mereka dalam ”3 Young and Vibrant Designers” yang disponsori Mazda.

Suasana mirip juga terjadi dalam acara Cleo Fashion Awards 2009 di panggung Koridor M, Rabu (18/11). Meskipun acara molor lebih satu jam dari jadwal, penonton semakin malam semakin ramai, sebagian besar orang muda. Mereka menunggu penampilan label Raiki, Kikichan, KLÉ, Nina Nikicio, Danjyo&Hiyoji, Majic., Geulis, dan Petite Cupcakes. Semua adalah merek yang dimiliki orang muda berusia 20-30 tahun. Penghargaan kemudian diberikan juri kepada KLÉ yang didirikan Kleting Titis Wigati pada Januari 2009.

Begitulah, para perancang muda itu memulai usaha. Membangun jejaring melalui komunitas adalah modal untuk memasarkan produk dan umumnya mereka berangkat dari kebutuhan praktis diri sendiri atau teman-teman.

”Komunitas penting banget untuk kami,” kata Dana Maulana (29) yang bersama Syarifah Liza (28) mengawaki Danjyo&Hiyoji.

”Blog juga membantu pemasaran kami,” kata Kleting, lulusan Esmod Jakarta dan Instituto Artistico dell’ Abbigliamento Marangoni, Milan, dan sempat bekerja di Miss Sixty, produk asal Inggris, di Hongkong.

Karena berkembang melalui komunitas, satu teman membicarakan dan merekomendasi suatu produk kepada teman lain. Dalam pemasaran modern, terutama menyangkut anak muda yang tak terikat lagi pada media konvensional, word of mouth diyakini lebih ampuh daripada iklan konvensional. Contohnya ketika BurgerKing Amerika awal tahun ini menawarkan burger whopper gratis kepada anggota facebook yang membuang teman facebook mereka, cara ini mendapat sambutan hangat dari anggota jejaring pertemanan dunia maya itu.

Label sekunder
Duet Cecilia Yuda (27) dan Lisa (26) memosisikan diri sebagai konsumen yang kesulitan mencari gaun cocktail atau gaun malam yang enak dipakai, cantik, dan harganya murah.

Setelah mengawali produksi tahun 2007 dengan satu penjahit, produk mereka, Benten, kini mempekerjakan 18 karyawan dan dijual di toko di rumah Lisa. Ditambah cara pemasaran online, Benten terjual hingga ke Singapura, Malaysia, Australia, dan Amerika Serikat.

Benten, yang diambil dari nama dewi keberuntungan Jepang yang cantik dan tangguh, menyediakan gaun untuk berbagai bentuk tubuh.

”Misalnya, untuk perempuan bertubuh pendek, tetapi ingin terlihat tinggi. Kami sengaja membuat beberapa contoh untuk tiap desain,” jelas Cecilia yang berpendidikan formal kehumasan di Melbourne, Australia. Adapun Lisa belajar financial banking. Tiap tahun Benten membuat 30 desain dan memasang harga Rp 1 juta-Rp 4 juta.

Adapun Stella Rissa, sejak awal sudah bulat ingin menjadi perancang busana siap pakai. Pergelaran di JFW adalah perkenalan lebih luas label sekundernya Stella.R yang diproduksi di Jakarta dan Bali.

Stella.R memakai konsep padu padan yang kuat. Meskipun bergaris sederhana dan tanpa batuan—tren mode saat ini—tetapi Stella.R penuh detail dengan teknik lipit dan lapis bahan tembus pandang.

”Stella.R diproduksi semimassal di Bali. Di sana lahan lebih luas karena kami mewarnai sendiri kain kami,” tutur Stella yang bermitra dengan dua rekan di Bali.

Dengan harga jual Rp 200.000-Rp 2,5 juta, Stella.R sanggup bersaing dengan produk sejenis dari negara tetangga. Tahun depan Stella.R akan dijual di toko independen Black Market di Singapura, menambah gerai saat ini di toko Gaya di Plaza Indonesia.

Tak heran bila Jeffrey dan Stella berharap kepada JFW. ”Harapan saya tidak muluk-muluk. Paling tidak bisa, seperti Sao Paulo atau Melbourne, didatangi pembeli internasional. Saya siap berproduksi kalau ada permintaan,” kata

Powered by Blogger